Berita Nusantara

Berita Dunia, Gosip, Bisnis, Artis, Humor, olahraga.

Tak Terima Kena Gunting Sensor, Produser BJ Protes

Satu lagi film Indonesia mengundang kontroversi. Film Bidadari Jakarta yang mengangkat realitas sosial Kota Jakarta kena gunting lembaga sensor. Bukan adegan vulgar yang dipotong, melainkan ucapan dan kata-kata kasar para tokohnya di dalam film itu. Itu membuat produser protes.

Produser film Bidadari Jakarta, Linda Rachman, akan segera berbicara dengan Lembaga Sensor Film (LSF). Saat ini, Linda tengah mengumpulkan pendapat dari media dan pelaku film untuk dijadikan dasar sebelum menemui LSF yang memotong filmnya sepanjang 42 meter.

“Saya ingin tahu dulu apa pendapat para senior dan media. Jika memang bagian yang disensor itu tidak perlu dipotong, maka saya akan menemui LSF untuk membicarakan hal tersebut,” ujar Linda Rachman ketika dihubungi Warta Kota, Senin (4/1/2010).

Linda mengaku sedih. Film yang mengangkat realita kehidupan anak-anak jalanan di Jakarta itu harus dipotong hanya karena kata-kata yang diucapkan mereka sangat kasar. Padahal, kata-kata kasar itu merupakan bagian dari keseharian anak jalanan dan itu yang ingin Linda tonjolkan.

Menurut Linda, kata-kata yang diucapkan anak jalanan di filmnya memang cukup kasar bagi masyarakat, tetapi justru itulah inti dari film ini. Bagaimana kehidupan keras dan kasar yang dijalani anak jalanan itulah yang perlu menjadi perhatian, baik pemerintah maupun pihak terkait. “Saya ingin memberikan informasi bahwa bagaimana pemerintah atau lembaga terkait bisa memperbaiki sikap anak jalanan,” ungkap Linda.

Potongan film yang disensor LSF, menurut Linda, merupakan esensi dari film itu. Jika dihilangkan, maka alur cerita jadi terputus dan tidak menarik lagi untuk sebuah film realita. Linda mengaku akan memperjuangkan filmnya itu agar bisa tayang di semua bioskop tanpa disensor.

Film Bidadari Jakarta rencananya ditayangkan serentak di seluruh Indonesia mulai 7 Januari 2010. Film itu diadaptasi dari kisah nyata tentang anak jalanan di Jakarta yang menggambarkan kehidupan sehari-hari mereka yang penuh kekerasan, pelecehan seksual, dan kerja paksa.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B LSF Firman Bintang mengatakan, secara umum kata-kata kasar yang harus disensor LSF harus disesuaikan dengan konteks yang ada. Selain itu, kata-kata kasar saat itu sudah tidak tabu seperti zaman dahulu. Bahkan, kata-kata itu sudah dipergunakan dalam pergaulan, khususnya anak jalanan. Menurut Firman, kata-kata, yang menurut tatanan masyarakat disebut kasar itu, bagi mereka adalah hal yang biasa. “Tetapi kembali lagi ke kontekstual film itu. Harus dilihat secara utuh apakah adegan atau kata-kata yang ada di film itu sesuai dengan ceritanya atau tidak. Jika tidak, maka terpaksa disensor,” ungkap Firman seraya menambahkan bahwa dia akan segera menonton film itu lebih dahulu sebelum memberikan penilaian lebih jauh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 7, 2010 by in Film and tagged , , , , .
%d blogger menyukai ini: